Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Ayu Sundari Lestari;Hujan Adalah Kita


Hujan Adalah Kita
Ayu Sundari Lestari

Di luar hujan masih deras mengetuk keras jendela kaca. Bulir-bulir kecil seperti huruf-huruf resah yang ingin menyatu menjadi sebuah sajak puitis. Menyampaikan pesan rindu yang hanya dimengerti oleh para perindu. Kita
Jari-jemari yang tertaut jarak dan tatap yang tidak bisa dituai, membuat hujan sendu dan meringis.
Teras-teras basah bersama sepasang bangku tua di tengah taman begitu pasrah menunggu kita merengkuh temu dengan berbagai kisah.
Iya. hujan adalah kita. Ikhwal bagaimana awal sebuah rasa bertunas karena rinai-rinai kecil yang menari di atas kepala.

Medan, 21 April 2018

Sisa-sisa Senja yang Belum Genap Menjadi Malam
Ayu Sundari Lestari

Adakah hal yang paling melegakan selain menumpahkan secawan beningmu? Tak usah kau ragu, karena aku siap mengeja tiap putik airmata yang mengalir dari sudut matamu, menjadikannya aliran sungai yang mengalirkan segala luka.
Sungguh, akan aku pahami tiap jejak-jejak luka itu. Lantas merangkulmu dengan bait-bait cinta yang menenangkan jiwa. Merajut hari penuh dengan puisi.
Berbagilah padaku tentang resah dan gelisah yang melumat jiwamu. Juga amarah yang mengakar di uratmu.
Percayalah, akan kulerai satu per satu. Mengendapkan sepi yang memenjarai hati kita sedari tadi.
Adakah celah yang paling bisa membuatmu tersenyum? Ataukah waktu belum kuasa menyembuhkan luka?
Ketahuilah tak ada yang dapat membuat semuanya terlihat baik, jikalau dirimu hanya berdiam.
Lihatlah, sisa-sisa senja yang belum kita genapkan menjadi malam. Ia masih menunggu kita. Menunggu kita untuk berkisah tentang esok pagi.
Garis-garis merahnya yang terlukis di langit, seperti alur cerita kita. Menuju keremangan, menggenapkan malam.

Medan, 21 April 2018


Hujan yang Jatuh di Mata Kita
Ayu Sundari Lestari

Hujan mengalir deras dari mata kita, menghanyutkan beban yang terpendam sejak lama. Ku tahu ada luka yang tersemat dalam relung kita. Bernanah dan berdarah.
Entah berapa banyak putik airmata yang gugur. Meresapi perih yang merongrong jiwa.
Kata-kata yang menyatukan kita. Dan takdir yang membuat kita ada di dalam lingkaran. Penuh dengan perbedaan. Ya, perbedaan itu kita; pelangi.
Tapi, kata-kata pula yang membuat kita saling menyakiti, saling mencaci dan saling melukai.
Ego saling menjauhi kita. Hingga persepsi mengutuk kita dalam amarah.
Tak ada hal yang paling melembutkan, selain mengeja tiap huruf-huruf yang tergenang di dalam kubangan. Lantas menyusunnya menjadi bait-bait, mempuisikan tiap bunyi rintikkan yang jatuh.
Adalah hujan yang bermuara ke kita. Merengguk kita menelusuri helaian butir-butirnya.

Medan, 21 April 2018


Biodata Penulis:

Ayu Sundari Lestari, lahir di Medan 21 Agustus 1991. Saat ini menetap di Jl. Sari No. 14 Medan, Sumatera Utara. Orang yang suka mengarang, suka jalan-jalan, penikmat drama korea, penikmat gerimis, penikmat buku, dan penikmat musik kpop.
Tulisannya pernah diterbitkan di Harian Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Sinar Harapan dan majalah Story.
Karyanya dapat juga ditemukan di garisgerimis.com, kompasiana.com, kompas. com, lintasgayo.com, baltyra.com dan Srorial.co atau di media sosialnya IG: @garisgerimis, FB: Ayu Sundari Lestari
Contact person: 0853 5980 0439

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...