Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Darin Rindiani;Cambukan Rasa



Cambukan Rasa
Darin Rindiani

Kisah kupun terhenti di pelabuhan lepas tak berujung
Dimana bagaikan air mengalir tertahan oleh bebatuan
Rasa yang telah lama tertanam dalam hati
Kini kuikhlaskan untuk mulai beranjak pergi

Meskipun lidah tidak mampu mengutarakan
Duri-duri kecil perlahan menghantam tubuhku
Kini jantung penantian harapan
Musnah melebur bersama kebisuan

Aku hanya ingin air mengerti
Bahwa bumi tak pernah sanggup kehilangannya
Meskipun mentari terang menyinari
Namun kehampaan sealu terasa

Cinta?
Begitu kejamnya dirimu menyiksaku
Menyiksa perasaan yang kian mencabiku
Membungkam semua waktu

Apa kabar dirimu disana
Masihkah adakah rasa itu dalam palung hatimu
Ataukah kini hanya tinggal ilusi semu
Bagimu yang mulai merangkak menjauhiku

Maapkan jika hati ini tidak pernah paham
Kamu yang mulai merasa tak nyaman
Atas rasa  yang kerap kulukiskan
Yang tak pernah kau hiraukan

Aku hanyalah seorang hawa di zaman modern
Yang tak bisa memendam rasa terlalu lama
Namun biarkanlah doaku yang bicara
Menyimpan berjuta teka teki rasa

Allahlah yang selalu menemaniku
Selalu ada mendampingi setiap langkahku
Dialah tempat mengadu keluh kesahku
Dialah sebaik-baik penolong dalam hidupku

4 April 2018


MALAM
Darin Rindiani

Waktu berdenting begitu keras
Memecah keheningan di tengah kegelapan
Semilir angin mulai menusuk tajam
Sunyi kian mencengkram

Ketika wajah basah dengan air
Sejadah mulai tergelar rapih
Bibir yang mulai gemetar
Menyuarakan cerita lewat munajat do’a

Daun daun melambai menghantarkan keresahan
Meninggalkan sejuta kegundahan
Menggoreskan tinta hitam di dingding
Ruang hampa kian menggeming

Mulut membisu tak berucap
Mata menatap tanpa melihat
Seketika udara masuk melumpuhkan
Tubuhku perlahan mulai membeku

Tasbih dalam genggaman
Tak kuasa ku menggerakan
Aku tertimpa guncangan hebat
Yang mendekap tubuhku kian erat

Buku baru itu kini dipenuhi coretan hitam
Dengan berisikan tinta penyesalan
Kian menegaskan pada alam
Badai akan menyerang

Seperti rembulan yang setia menemani malam
Dalam kegelapan tanpa suara
Ia hadir dengan sejuta  pesona
Mengnepiskan semua keraguan yang melanda

Wahai malam
Jangan pernah kau coba berhenti menanti
Aku akan selalu datang menghampiri
Dengan taubat nasuha ku
Di sepertiga malam yang membisu

4 April 2018


Kekasih Sejati
Darin Rindiani

Jiwaku hilang seketika
Ketika ku ingat sosok mu wahai pujaan
Cintamu yang sungguh jernih
Bagaikan sungai yang tak tercemari kotoran

Kaulah panutan pria akhir zaman
Ahlakmu tak tertandingkan
Umatmu yang selalu kau utamakan
Yang tak pernah kau tinggalkan

Kau sungguh kekasih Allah yang tercinta
Kau pembawa cahaya
Disaat manusia bergulat dalam kegelapan
Kau tanburi dengan kelembutan
Tak pernah lekang sosokmu termakaan zaman

Wahai pujaan setiap umat
Rasullulah ku junjunganku
Berderai air mataku
Kau sumber panutan manusia

Rasullulah semangatmu tak pernah padam
Demi menegakan kebenaran
Berdasarkan al-quran dan syariat islam
Membawa uamatmu menuju dunia yang terang

Rasulullah terlalu merindukanku
Ijinkan kami tuk selalu menyebut namamu
Dalam tiap sujud yang kami pinta
Cintaimu takan pernah terlunturkan

Getar sholawat yang bergema
Alam ikut bersholawat memujimu
Wahai sang kekasih Allah
Izinkan kami bertemu denganmu

Muhammad sang pujaan seluruh umat
Kaulah insan yang mulia
Kaulah  insan sejati yang sempurna
Jasamu  terkengang sepanjang zaman
4 April 2018

Biodata Penulis

Nama saya Darin Rindiani, biasanya di panggil ririn atau ai, di lahirkan pada tanggal 25 Juni 1997 tepatnya di desa tercinta yakni desa Linggamanik, kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut Jawa barat. Saya memulai pendidikan MI, Mts dan MA di Al-Falah Cikelet. Dan sekarang alhamdulilah sedang menjutkan S1 di Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, dengan juruisan yang di ambil adalah Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Sekarang saya sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan kuliah saya dalam waktu 3 tahun dan ingin mewujudkan 1000 impian yang sudah saya tulis. Menulis adalah salasatu kebiasaan saya, dari mulai Mts. Saya tertarik dengan puisi, dan juga fashion draw. Email penulis ; aidarinrindianiaidarin2224@gmail.com, nomor kontak 081321946500.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...