Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Dhea Ayu Septya; Tiba-Tiba Aku Rindu

TIBA-TIBA AKU RINDU
Dhea Ayu Septya

Saat aku telah terbebas dari rasa
Sang cinta kembali tiba mengisi jiwa
Saat memoriku sudah menghapusnya
Deru nafas seakan mengembalikan semuanya
Kini, si rindu datang lagi
Tanpa pamit, tanpa permisi
Dan tanpa mengetuk pintu hati
Ia seakan dengan mudahnya menelusup relung jiwa
Padahal, aku masih memiliki rasa pada yang lain
Entah kenapa ragaku tak bisa melepas keduanya
Sangat sulit,
Mengingat dia yang masih terkubur di lorong cinta yang enggan melepasnya
Hatiku haus akan pertemuan itu
Dan ragaku mulai menginginkan hadirmu
Temuilah aku, dekaplah aku dengan cintamu
Agar bisa ku lepas rindu
Dengan pelukan ringan hangatmu

Trayeman, 15 Maret 2018

SENJA DIATAS SEBUAH RASA
Dhea Ayu Septya

Hamparan langit senja oranye nan indah
Membuatku termenung,
Memikirkan kebahagiaan mereka, mereka yang kusebut orang tua
Sampai saat ini aku masih tak bisa membenam kelesuannya
Lelahnya seakan tak berarti, tawanya tak ia peduli
Setetes peluh di tepian rasaku
Menjadi tanggunganku, untuk merajut bahagianya
Rajutan demi rajutan mulai saling mengikat
Tapi lagi-lagi petaka mengoyak semangatku
Kata kasar menghancurkan impianku
Tapi ku tak peduli, sehancurnya hatiku
Tetap mereka akhir perjalanan panjangku
Melihat tawa bahagia, bukan air mata nestapa
Adalah tugasku
Deraian hujan, panasnya sang mentari, dan indahnya sang rembulan
Adalah kawan setiaku
Di tiap waktunya, keluh kesahku selalu ada
Di akhir senja, rasa itu tetap terjaga
Rasa tak sanggup menguasai si senja
Senja dan rasa, hanya dapat beriringan
Menghilangkan kesemuan, menghadirkan berjuta impian
Yang nantinya, akan ku persembahkan
Untuk mereka yang kusebut, Ayah Ibu

Trayeman, 29 Maret 2018

KETIKA HATI BUTUH DIMENGERTI
Dhea Ayu Septya

Disini, diujung rasa yang hampir tenggelam
Aku terduduk terdiam
Membiarkan angan menelusup nyamanku
Bayang tentangmu perlahan usik damaiku
Teringat waktu kamu jadi milikku
Andai kamu tau,
Diantara tulisanku yang lalu
Isinya hanya satu,
Tentang rinduku yang masih untukmu
Tentang rasaku yang masih menyimpan namamu
Namun, semua itu hilang tanpa sisa
Kamu yang dulu kucinta
Sekarang perlahan hancurkan rasa
Sejujurnya, aku masih tak rela
Membiarkan kamu pergi bersamanya
Tapi harus bagaimana lagi
Jika cintaku sudah tak diingini
Hatiku juga butuh dimengerti, bukan hanya mencintai
Pergilah kasih, dengan segenap cinta yang ku punya
Ku lepas kamu bahagia bersama dia

Trayeman, 21 Maret 2018



Biodata

HELLOO! Nama saya Dhea Ayu Septya, singkatnya Dhea. Saya lahir di Tegal, 15 September 2001, anak pertama dari 2 bersaudara. Saat ini saya masih bersekolah di sebuah SMK Negeri di Kota Slawi. Saya mengenal dunia tulis atau sastra sejak saya duduk di kelas 1 smp, itu kali pertama saya membuat beberapa cerbung. Dan pada, kelas 1 smk saya mulai mengenal semakin dalam mengenai kesusasteraan. Bahkan di kelas 2 smk saya mulai banyak menambah wawasan saya di bidang sastra dengan meminjam beberapa buku mengenai sastra. Ya, mungkin bisa dibilang wawasan saya masih terlalu dasar, awam untuk hal seperti sastra, puisi, prosa, cerpen, novel dan bentuk karya tulis lainnya. Tapi apapun itu, saya akan tetap berusaha untuk terus belajar menjadi lebih baik. Kritik dan saran dari kakak sekalian sangat saya perlukan, mengingat masih terlalu dangkal pengetahuan yang saya miliki. Semoga saya tetap terus bisa dan mungkin lebih dari ini nantinya, semoga karya tulis yang saya buat bisa membuat siapapun yang membacanya terkesan hehe.. Bismillah, sukses terus kakak. Terimakasih untuk semua pihak yang sudah mengadakan lomba online ini..

E-mail : dheaayu19759@gmail.com
Akun Facebook : Dhea Ayu Septya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...