Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Dhevia Anggraeni;Melodi Alam

MELODI ALAM
Karya : Dhevia Anggraeni

Konser ini luar biasa
Dipersembahkan langsung oleh Sang Pencipta Yang Maha Agung
Untuk ditujukan kepada mereka yang ingin mengucap syukur
Kepada mereka yang ingin terlepas dari jeruji bisingnya perkotaan
Kepada mereka yang ingin merayakan hari sepinya

Tak bisa ku hitung berapa banyak karya-Nya yang telah
membuatku benar-benar jatuh hati
Mungkin tak hanya aku, mungkin kamu, mungkin kita, pun mungkin mereka
Yang benar-benar dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya
Selalu diajak membawa perasaan saat menikmati persembahan-Nya

Konser ini luar biasa
Setiap frasa musik indah yang Dia hadirkan
Membuatku semakin bersyukur pernah terjebak ditempat seperti ini

Pepohonan sekaligus kicauan burung-burung yang dibiramai angin
menjadi orkestranya
Tak perlu sebuah lirik untuk menjadikannya indah
Cukup syukurku kepada-Mu dan melodi ciptaan-Mu

Malang, 4 November 2017


KUNING
Karya : Dhevia Anggraeni

Aku tak tahu, mengapa ia (kuning) selalu direpresentasikan dengan
konotasi yang negatif?
Apa salahnya?
Padahal ia tercipta untuk berdiri diatas kakinya sendiri
Menjadi dasar untuk mereka yang lain

Aku tak tahu, mengapa mindset kuning selalu merujuk pada
sesuatu yang mengambang disungai-sungai?
Apa salahnya?

Kuning tak selalu tentang hal yang menjijikkan kawan
Jika kau merujuk pada filosofinya, kau akan tahu
begitu hebatnya ia
Melambangkan penginspirasi, keceriaan, kebahagiaan, dan kekreativitasan

Kuning layaknya pemuda
Ya, pemuda
Yang saat ini selalu dikonotasikan negatif
“pemuda generasi micin” begitulah sapaannya
Yang selalu disangkutpautkan dengan hal-hal yang tak tahu aturan
Padahal kenyataannya, tidak selalu begitu
Kadang terlalu fokus pada minoritas, akan mengabaikan mayoritas

Bojonegoro, 30 Maret 2018


TERJEBAK
Karya : Dhevia Anggraeni

Adakah yang lebih mengerikan dari negeri yang tidak sedang
baik-baik saja tetapi kita yang tinggal merasa biasa saja?
Seakan buta,
seakan tuli,
seakan acuh tak acuh, menanggapi zaman seperti ini

Adakah yang lebih memalukan dari petinggi yang memiliki
ratusan jargon yang katanya untuk “rakyat” tetapi ternyata
untuk melindungi dirinya sendiri, pun kawan-kawannya?
Entah begitu pintarnya mereka atau memang kita yang terlalu polos?
Entah begitu hebatnya mereka menyusun strategi atau memang kita yang tak kenal strategi?

Hai Tuan yang mengaku tinggi!
Jika kita tak lagi kau anggap kawan
Mengapa dulu kau tebar janji-janji manis?
Mengapa dulu kau memohon agar kau jadi kawan kita?
Sekarang, apa bedanya kau dengan pengkhianat?
Apa bedanya kau dengan spesies bermuka dua?

Bukan maksud mulut kita lancang, Tuan
Tapi bagaimana lagi?
Kau yang telah memulai sinetron ini
Dan sekarang, hentikanlah bebualanmu itu!

Bojonegoro, 14 April 2018


BIODATA

Nama saya adalah Dhevia Anggraeni. Saya lahir pada tanggal 7 Juli 1996 di Bojonegoro, Jawa Timur. Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya tinggal di Jl. Meliwis Putih No. 130 Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Saat ini, status saya adalah mahasiswi tingkat akhir di IKIP PGRI Bojonegoro dengan program studi yang saya tempuh yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Saya bisa dihubungi melalui facebook Dhevia Anggraeni atau WhatsApp 0857-3513-1173.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...