Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Dini Harani;Diam

Diam
Oleh: Dini Harani

Diam tak selalu mau dibungkam
Keadaan bukan bebas karena diam
Diam tak kan mengembalikan keadaan

Suri bukanlah mati
Ada kata berkesempatan hidup kembali
Kembali yang bukan kembali diam

Jika kau kira diam itu terkunci
Maka terkunci hanya sesuatu yang ingin dibuka kembali

September 2016


Cinta Yang Dungu
Oleh: Dini Harani

Matinya diriku melihat senja kehilangan kekuatannya
pada rintik embun dari sambaran petir kemarin sore
diriku masih diam bersebrangan dengan  masa depan
menanti ayunan tangan dan tapakkan kaki yang sekadar mampir
malah detik  dengan seenaknya saja datang berpergian
Matinya diriku menyumpat bunga mawar yang kian merambah
pada saraf otak, denyut nadi, hingga aliran darah
menyerbu, mengoyak segera ingin memberontak
gegara amor terlalu banyak memberiku serbuk asmara
Matinya diriku membiarkan hujan menyetubuhiku
tak mau berteduh, sampai remuk bagian tulang-tulangku
mataku memerah, hatiku mengecil, dan isi kepalaku menyempit
dadaku sesak, pikiranku sesak, perasaanku sesak
Matinya diriku dibiarkan kekasih dari kemarin
dungu sudah telingaku, mataku, dan rasaku
kusudahi  rasaku malah semakin dungu
diriku matipun karena terus begitu

Yogyakarta 2018


“Judulnya Yang Lalu”
Oleh: Dini Harani

Dulu, dulu sekali
Bahasan kuno mengenai musabab kangen sekalipun rindu

Awalnya, berawal dari kenalan berangsur mengenal
Berujung kenal sangat baik, bahkan baik sekali
Dari yang bermula satu kata tambah satu kata
Menjadi dua kata
Semakin menjadi-jadi, semakin berkata, bercakap, malah berdebat

Di pertengahan, sesuatu tragedi.
Tiba, muncul, singgah, istirahat, tenang, berdiri, lalu pergi
Tak begitu, datang dan bersemayam
Asih Yang begitu Asuh, hingga berkasih dan berlimpah kasih

Juli 2017


BIODATA PENULIS
D:\image\bacup siomi Desember\IMG-20180119-WA0050.jpg
Dini Harani, perempuan kelahiran di Gunungsari, Pati, Jawa Tengah pada 27 Juni 1996. Sekarang sedang merambah dengan penuh kesabaran di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Kini, masih tergabung dalam komunitas Pura-Pura Penyair dan masih aktif di bidang  jurnalistik kampus. Mengenai prestasi, saya tidak memiliki prestasi yang memukau. Akan tetapi prestasi-prestasi tersebut sekarang sedang saya usahakan. Dan saya menikmati sekali proses ini. Sila ingin mengenal saya e-mail giartioneng78@gmail.com; nomor telepon (081225357834).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...