Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Gadis Hujan;Bisik Asmara

Bisik Asmara
Wita Dewi Nst

Simfoni mengalun rentan bisik asmara
Bercerita tentang rasa hati
Bergelora di dalam jiwa
Membingkai dalam pigura
Terangkai dalam rajutan cinta
Mengungkap semua rasa
Yang belum sempat terucap oleh bibir
Kepada engkau yang ku puja
Tak cukup sempurna gaya bahasa
Untuk mengutarakan rasa cinta
Namun kesaksian memaksa
Untuk segera bercerita
Prihal kau yang ku cinta

Medan, 26 Januari 2018


Bunga Layu Yang Tertinggal
Wita Dewi Nst

Langkah kaki terhenti di sudut taman
Tak sengaja mata menatap setangkai bunga layu yang memudar
Terdiam sesaat terbayang memori di masa lampau
Seraya kenangan menyeruak berhamburan
Tak mampu lagi menepis air mata yang bercucuran
Kumbang merenggut wangi pada sekuntum bunga
yang kini rapuh dan pudar warnanya
Kelopaknya tak mampu lagi menopang mahkota
Hingga helai demi helai jatuh tak terjaga
Orang-orangpun enggan menatap apalagi mendekat
Sang bunga kini merana
Di selimuti awan hitam pekat yang kelam tanpa cahaya
Yang ada hanyalah pilu di peluk derita
Tak mampu berkata karena tubuh semakin tak berdaya menanggung malu
Biarlah diam bersama sepi yang akhirnya berujung mati

Medan, 08 Maret 2018


Kau Pangeran Di Kota Pelajar
Wita Dewi Nst

Kau dan aku dipertemukan di sebuah rumah
di ujung jalan gang buntu
Menundukkan wajah tak saling sapa
Ataupun menjulurkan tangan untuk saling berkenalan
Hari demi hari kita habiskan di tempat yang sama
Dan entah dari mana mulanya kita begitu akrab, tertawa riang,
bercerita yang akhirnya berujung tangis
Hingga aku merasa kau adalah cermin inspirasiku
Kau adalah getar di setiap degup jantung
Pendengar di setiap keluh jiwa
Teman di sudut sepi
Bahkan penghibur dikala lara
Tanpa terasa waktu telah berada di penghujung kebersamaan
Memaksa kau dan aku berpisah
Untuk kelanjutan pendidikan
Hari itu terasa sangat berat di saat aku harus melepas
dan melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda denganmu
Kau di selatan pulau Jawa sedangkan aku tetap di pulau Sumatera
Entah perasaan apa yang mendera hingga tangisku melara-lara
Apa ini cinta?
Hingga terasa begitu takut berpisah apa lagi kehilanganmu
Apakah kau juga merasakan apa yang ku rasakan
Ah... aku telalu takut jika mendapati kau mempunyai rasa yang berbeda denganku
Namun aku yakin Tuhan punya alasan mengapa kita di pertemukan

Medan, 15 April 2016


Biodata Penulis
C:\Users\ACER\Downloads\coretan\26231807_2039554942986650_8533560277100671339_n.jpg
Nama saya Wita Dewi Nst, Lahir di Sungai Ular pada 15 April 1997. Saat ini saya tercatat sebagai Mahasiswi Universitas Prima Indonesia di kota Medan, Sumatera Utara. Alamat tempat tinggal saya di Jalan Danau Singkarak, Medan Barat Sumatera Utara. Nama pena saya Gadis Hujan.
Akun Facebook FB : Cut Wita Liliana Nst
Nomor HP : 082165075092



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...