Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Muthia Ipmasyari;Tutur


Antara Netra dan Ruangku
Oleh : Muthia Ipmasyari

Ingar duri – duri semerbak di pagi hari
Banyak tulang mati terjebak ilusi duniawi
Jasad terkekang pada bau air lindi
Kami terjebak demi kepuasaan diri

Sebuah keyakinan mulai merefleksi
Bangsaku akan mati
Dengan segala kesombongan abadi
Bagi manusia yang tak saling peduli
Bahkan mencemooh dengan bangganya di atas pelangi – pelangi

Netraku,
Membiarkanku berada di ruang sendu
Membiarkanku beradu
Dengan kehidupan penuh haru

Netraku,
Bukan alasan berhenti maju
Justru junjungan mencapai mimpi baru
Hingga jasadku ditelan bentala rindu

Seluruh hati kini menjadi satu
Teringant aliran nasihat ibu
Agar tetap peduli bangsaku
Juga saudaraku
Untuk menghentikan paham egoisme yang aku tak tahu
Kapan hadir dan berlalu

Balikpapan, 19 April 2018


KIRANATALA
Oleh : Muthia Ipmasyari

Aroma petrichor mengeruk debu dari ufuk
Irama lapuk
Desir harmoni menafsir siang penuh amuk

Kubiarkan sang maestro menggoda pertiwi
Membisik masuk dalam imaji
Seperti roda-roda menuju predestinasi
Sehangat kopi
Membawa buih teka-teki
Soal dikara cinta yang abadi

Remah jangkah ornamen nada seolah terus bermain di telinga
Meski terpisah oleh microtone gelora di pulau berbeda
Hanya berkasih dari predestinasi tak sama
Terpisah oleh jenggala dua dogma
Bertemankan jemari semanis acapella hingga terus bersama

Dia, kupuja
Aku menyinta,
atas nama deburan rasa, mendamba gelora asmara

Aku menyinta,
atas nama sang senja
Bersama bias semburat jingga

Inilah kisah dua insan sendu
Bertemu dalam keadaan rancu
Saat jarak menjadi saksi bisu
Membuat tak pernah bertemu

Meski begitu aku tahu
Merasa begitu mengenalmu
Halus merayu
Bersama dawai – dawai rindu

Kini cinta itu layu
Bukan lagi gemulai nafas yang merdu
Meski hati terus menunggu
Rindu kepalang soalmu

Untai harmonika membiarkan khayalku bertemu padamu
Aku tahu, tempatku diganti oleh nona di situ

Samarinda, 19 April 2018


Tutur
Oleh : Muthia Ipmasyari

Ini kisah jenggala
Antar umat manusia yang beradu di sepertiga senja
Melawan bara
Merakit rantaian asa
Untuk kehidupan nyata
Yang akhirnya menjadi mimpi sia – sia

Semua bermula sebab tutur tak terjaga
Norma hilang ditelan ilmu yang kau baca
Membedakan mana kaya dan sahaya
Mengatai semaunya
Tak ada etika

Tua muda sudah setara
Cekikan dimana – mana
Rona bahagia hanya akan jadi kisa semata
Karena tutur tak terjaga

Kembalikan penerus pada fungsi sediakala
Demi menjaga Indonesia
Untuk berjalan sebagaimana mestinya
Tanpa kaum kaum yang gila kuasa

Samarinda, 19 April 2018


Biodata Penulis :

Muthia Ipmasyari (lahir 31 Maret 1997) seorang mahasiswi Perencanaan Wilayah dan Kota yang aktif menulis serta mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan sejak beberapa tahun silam. Penulis asal Kalimantan ini juga aktif dalam menjalankan serta menginisiasi minat membaca dan menulis bagi masyarakat agar budaya literasi terus terjaga. Saat ini penulis berdomisili di Jalan Giri Rejo II KM.15, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur. Selanjutnya dapat menghubungi email: Drafelthia316@yahoo.co.id, Facebook : Muthia Ipmasyari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...