Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Rizki Setyo Widodo;Akhir Sebuah Nama

Sajak Hujan 
-Rizki Setyo Widodo

Goresan hujan sebagai ilalang kalbu
Bernari embun sore
Yang menghiasi rindu
Tpi apadanya hanya salam
Ku titipkan selembar tanggismu

Walau bara suci menatapmu
Kau hancurkan sajak candamu
Tak apa
Tarian tinta cerminmu

Pemalang, `17 septermber 2018


Akhir sebuah nama
-rizki setyo widodo

Ku goreskan sajak nama
Arti dari sebuah kenangan
Ku tinggalkan nyanyian suci
Ku titipkan nyanyian embun
 Oh rabbku jaga sajak suciku
Sampai disyurgamu

Pemalang, 13 april 2018


Sajak Sebuah Cakrawala
 : Smk Bhakti Pertiwi Pemalang (X RPL 2018)

Ku tulis sajak cakrawala
Kan ku sandingan dengan tarian mentari
Membawa sejuta keceriaan
Tak kan ada sebuah lentera lain
Menggantikanya
Hanya saja waktu
Yang memupuskan harapan cakrawala.

Dan ku titipkan cakrawala ini bada tetesan
Tinta orang yang kan menuntun
Oh cakrawala terbanglah setinggi harapan
Tunjukan pada api bahwa kau bisa terbang bersama goresan tinta api.

Kan kudukung hanya selembar doa
Dan pada kalanya goresan sajakku
Bertemu cakrawala hanya sebatas rindu

Tapi ku akan semalu kirimkan doa rindu buat mu

Pemalang, 11 Maret 2018


Biodata Penulis

Rizki Setyo Widodo, Lahir di kota Pemalang, 10 Agustus 1994. Untuk kegiantan saat ini saya mengajar di SMK Bhakti Pertiwi Pemalang mengajar mapel Bahasa Indonesia dan masih Bergiat di Komunitas Sastra Pojok Stasiun. Karyanya dibukukan dalam buku Dunia Dongeng yang berjudul “desa makaroni” dan dalam buku Warna Cerita yang berjudul “kerajaan coklat”. Puisinya terantologi bersama di Semusim Kemarau (Oase Pustaka, 2015). Alamat Asal : Jl Tanimbar 6 No. 10 RT 01 RW 17 Perumahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang. No HP : 08196067902 Fb. Setyo Rizki Email: rizkisetyo7@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...