Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Sofiyah Bws;Sayap Garudaku

Hancur
Oleh : Sofiyah Bws

Tempat ini dulunya hanya tanah, antah berantah
Orang hidup tak bebas dalam perintah, penjajah
Jantan pahlawanku meski hanya dengan sebujur panah
Disulap tanah ini jadi rumah
Indah

Aku tersenyum hidup lega di rumah sendiri
Menarik nafas suci dari pagi hingga malam hari
Pahlawanku menjelma jadi bulan dan bintang di langit negeri
Juga mentari tersenyum menyaksikan indah pertiwi
Wangi

Itu dulu, tidak sekarang
Rumah telah rapuh hilang ruang
Berserakan barang-barang
Negeri indah hanya ada dalam bayang
Sayang

Atap rumahku bocor
Negeriku kemasukan koruptor
Alasnya mulai kotor
Kami terteror
Horor

Pintu patah kayunya
Negeri banyak malingnya
Jendela pecah kacanya
Negeri hilang harta
Fakta

Nasi dalam rumahku jadi bubur
Segelintir pemimpin tidak jujur
Bulan dan bintang malamku jadi kabur
Tak ada lagi mentari timur
Kabur

Para maling telah kabur
Pemilik rumah babak belur
Negeri tak teratur
Pecah-pecah telur
Hancur

Bondowoso, 29 April 2018


Sayap Garudaku
Oleh : Sofiyah Bws

Air mataku berceceran menemukan tulang-belulang
Jasad-jasad para pejuang
Di antara sekian tempat para pahlawan
Ya, ini bumi mereka yang rela berkorban

Aku adalah penumpang yang ingin pengemudi kembali lagi
Agar tahu aku bagaimana rasanya mati
Setelah pergi mereka menyisa warisan
Naas sayap garudaku patah dibuang sayang

Sayap garudaku telah patah
Ditembak napi yang kian beraksi
Mataku lemah
Menyaksikan negeri sendiri

Sayap garudaku telah patah
Tertimbun reruntuhan kasus negeri
Aku hilang arah
Entah kemana akan pergi

Tidak, aku tak kan pergi
Biarlah sayap patah kan kuobati
Dengan lembaran puisi untuk negeri
Agar garudaku pulih kembali

Aku tak kan pergi
Sebagai generasi negeri ini
Aku kan berjuang
Agar garudaku kembali terbang

Bondowoso, 29 April 2018


Dari Sastra
Oleh : Sofiyah Bws

Aku malu sebagai generasi muda tak berkarya
Ketika tahu negeriku sedang meradang
Hanya menyaksikan luka demi luka
Tergores oleh tajamnya pedang

Aku yang hampa hanya menyaksikan darah mengucur
Dari jiwa-jiwa lemah berderai air dari pelupuk mata indahnya
Melihat negeri seperti kubur
Mati oleh korupsi yang semakin merajalela

Haruskah aku diam tanpa seuntai kata?
Dalam hati berteriak tak mau menolak perang
Tapi aku hanyalah insan penggerak pena
Kukatakan padamu lewat puisi yang kukarang

Kan kutebang rimbunan pohon berduri dalam negeri
Juga semak belukar di antara manisnya pohon tebu
Parasit-parasit negeri ini
Benalu yang menumpang tak tahu malu

Syair ini haruslah kau baca dan simak baik-baik
Lebih baik lagi jika kau akhirnya sadar
Dalam dunia politik
Mengikuti jalan yang benar

Inilah inti goresan tinta dari pena
Berhentilah agar dosamu tak semakin cair
Salam pejuang sastra
Salam dari penyair

Bondowoso, 29 April 2018


TENTANG PENULIS
D:\@FOTO\HP AJA\PhotoGrid_1504847906866.jpg
Penulis bernama lengkap Sofiyah. Lahir di Bondowoso pada 6 Februari 1997. Tinggal di desa Petung kecamatan Curahdami RT 3 RW 1 Bondowoso Jawa Timur. Ia anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Nikmad dengan Ibu Sunarmi. Riwayat pendidikannya diawali di SDN Petung 1 (Curahdami) kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Bondowoso. Lepas lulus menengah pertama pada 2012 lalu, ia melanjutkan pendidikannya di MAN Bondowoso (Jurusan Agama) dan lulus pada 2015 kemarin. No. HP/WhatsApp : 085232347412.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...