Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Wahyuna; Lautan Duka Jiwa

Lautan duka jiwa
wahyuna

Betapa lelah,gundah dan lemah?
Inilah jejak yang harus kutempuh
Dibawah langit yang luka
Menyatu menjadi air mata

Kaki yang lelah mulai berhenti malangkah
Seakan ingin berkata ahh,sudahlah!
Tangisan duka menghitam
Duka mendalam membelah angkasa

Sejarah hidup yang tak pernah lekang oleh waktu
Bagai petir yang menyambar petih
Senja jingga menjadi saksi
Berdiam diri  merendu sendu

Aceh,12 april 2018


Penderitan situa renta

Ketika sirna menerpa nestapa
Ketika senja tak lagi menyapa
Rembulan mulai tenggelam
Lantas hidupku sia sia

Padahal sang Khalid telah menurunkan ayat ayatnya
Kuacuhkan panduannya
Kau lalaikan seruanNya
Kau lakukan laranganNya


Kini kulitku mulai menyusut
Tak ada bekal yang kusiapkan
Kini lambat sudah….
Masa mudaku penuh duniawi sadar dipenghujung hidup yang tak berarti


Aceh,12 april 2018


Tersedak cinta

Perasaan cinta dan kasih
Tak dapat dijelaskan dengan logis
Terkadang terasa  enak dan sadis
Seperti soda yang menyentuh lidah


meresap ,lenyap seketika
seringkali membuat orang salah arah
terbuai akan tegukanyan
terlalu asyik menikmatinya


hingga tertelan kembali sendawa
seperti cinta yang selalu salah memilih
perih,seperti tertindih linggis
sungguh tak trendis….


Aceh,12 april 2018

Biodata Penulis

Lewat pernikahan sulaiman dan asnawati saya dilahirkan,di bumi Aceh pada 11 juni 1996 dengan nama Wahyuna.Debut menulis saya berawal diSMP ,dilanjutin ketika SMA unggul Ali Hasjmy dan kemudian saya melanjutkan ke Universitas Syiahkuala di prodi Agroteknologi,walaupun di jurusan pertanian saya masih menekuni hobi menulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...