Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Achmad Mubarok;Layang-Layang

LAYANG-LAYANG
By : Ach Mubarok

Aku rindu masa kecil dulu,
bermain petak umpet misalnya,
atau bermain layang-layang.
Meskipun terjatuh; terluka
dan berdarah.
tetapi tetap saja mampu
sekejap tuk berlari
sekali lagi dan lebih
kencang dari sebelumnya.

Ketika semua telah tertelan waktu,
kenapa sekarang ini lebih susah
hanya untuk sekadar berdiri
dari rasa lelah?
atau merebah dari perasaan-perasaan
gundah. Merindu misalnya,
hal-hal sepele itu membuat mataku
perih, kepalaku terbelah
dan pikiranku tersesat.

Aku ingin menjadi bocah,
yang kebal akan rasa lara,
mampu mengekang rasa payah,
dan menjadi layang-layang
kala rindu pada seseorang,
bersama awan ia bisa
menjadi hujan yang indah.
misalnya.

Semarang. 05/04/2018
22:22 WIB


Tak Pernah Dikira.
Oleh Achmad Mubarok

Dalam perkiraan di mana mata kita bertemu
bertamu pada satu rumah berpindu rindu,
atap: rerumputan tak berwarna hijau,
dan jendela menyeka separuh ruh.

Suatu ruang di mana kiranya bibir kita bersua
di sebuah buku terlukis kota dan kita bersama
kata-kata tumbuh, berbuah bintang
dan berbunga rembulan.

Di suatu kira, di mana kedua tubuh kita berjumpa
sementara langit lebih menyukai hujan terluka
daripada memeluk mendung yang anggun;
runtuh menjadi rumah

di mana kita
tak pernah bertemu.

Semarang,01/05/2018


Tempat Sampah
By : Achmad Mubarok

Kala petang selimuti padang
rumput ini, entah bagaimana sisa-sisa daging
dari toko franchis berhasil
menemukan jalan pulang.

Kisah bahagia memilukan ini
ada diantara sekumpulan
sapi-sapi.

ketika mereka semunya berpelukan
saling menyapa meski berbeda bentuknya,
namun seolah-olah petani itu tidak pernah
membawanya ke tempat asal.

Dan aku
duduk di meja di bawah parade
lampu lampion; aku tak bisa menahan
diri untuk menyusup lorong-lorong pikiran.

Ini siklus kehidupan, bukan ?

Sekarang aku tahu, untuk menyapa
tiap-tiap tempat sampah dengan rasa
kekeluargaan yang baru saja aku
temukan.

Semarang,20/04/2018


Profil Penulis

Achmad Mubarok. Ia punya nama pena a.m lahir 23 tahun lalu kini bekerja sebagai pustakawan di salah satu PTS di Kota Semarang, ia penggemar es susu dan secangkir kopi. Dapat diajak bincang di akun instagram @ach.mb, akun line @mubarok.ach,  atau melalui surat elektronik di moebarokachmad@gmail.com dan Nomor WA 085742142701


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...