Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Nevia Ika Utami;Tak Sederhana

Tafsir Logika
Nevia Ika Utami

Asmara gelap yang buat terlelap
Memastikan perkara yang segera tersergap
Dalam bumbungan kepulan asap
Yang buat kita semakin terjerembab

Kita telah menyusun sang abjad
Kita telah rangkai sang tekad
Tuk hidupkan kata
Dalam tafsir logika
Yang selalu libatkan tinta
Untuk buat ritme-ritme tentang cinta

Lamongan, 31 Maret 2018



Membisu dalam Temu
Nevia Ika Utami

Kenapa membisu dalam temu
Ada apa gerangan cobalah ceritakan padaku
Apa kau telah tersesat dalam fatamorgana
Yang ternoda dalam sajak akan cinta yang sementara

Bicaralah agar aku mengerti apa yang kau ingin
Jangan berisyarat dalam diam yang tak terdefinisikan
Jangan menatapku teramat sangat
Aku takut, aku bingung harus bagaimana

Lamongan, 01 Mei 2018



Tak Sederhana
Nevia Ika Utami

Kuraba dalam gelap
Setiap inci kasarnya
Kuterawang dalam abstrak
Kumpulan warnanya yang tak sederhana


Bisakah aku lama-lama menatap
Untuk kemudian memantapkan diri menetap

Dan waktupun mulai merubah semua itu
Aku yang semakin layu tertimpa ambigu
Aku yang semakin tertikam rindu yang berkamuflase bersama sendu
Menjadikan sebuah utuh menjadi semu
Sebuah irama jadi tak karuan

Kini....
Tiang puing rasa jadi khayalan
Akan cinta yang tak pernah ada kejedaaan

Lamongan, 01 Mei 2018


Biodata Penulis
C:\Users\Windows\Pictures\foto\IMG_8335.JPG

Penulis bernama Nevia Ika Utami, lahir di Lamongan, 12 Desember 1998. Tinggal di desa Blimbing Paciran Lamongan. Saat ini, Penulis sedang melanjutkan studinya di STIQSI (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al- Ishlah) jurusan ilmu tafsir Al- qur’an. Penulis sangat mencintai dunia literasi dan ingin mengembangkan bakat dalam bidang ini. Akun Fb Nevia Nep, e- mail neviaika50@gmail.com, No.Hp 082297656157.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...