Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Nurwahyuni;Milik Hati

Milik Hati
Nurwahyuni

Jauh ku menatap cakrawala
Mendendangkan irama
Dalam alunan musik metafora
Syair yang beralun indah
Menggema dalam bisikan lembut
Penuh kehangatan
Aku mencoba untuk berpaling
Mencari celah dalam hampa
Tak dapat ku lihat
Tak dapat ku berfirasat
Entah di mana, dan siapa yang menuntun ku penuh
Wibawa
Mengajak ku berjalan dalan gelap
Memberi ku semerbak harum yang tak nampak
Siapa dia ? entah siapa ?
Rindu..
Itulah isyarat yang menggema dalam hatiku
Membuatku keras berfikir untuk merajuk
Tak sungkan aku ungkapkan pada gelapnya malam
Aku rindu..
Rindu pada  sosok gelap berwibawa di atas cakrawala
Mimpiku
Yang mengajariku arti kesetiaan
Bukan untuk bertahan tapi..
Untuk menerima
rindu..
yang membuatku tau
siapa sosokmu dalam kalbu
Dan itu lah rindu.. milik hati
Dan itu adalah kamu.


Masa kita
Nurwahyuni

Bertahun-tahun ku mencari
Menuntut dan mengejar
Yang namanya ilmu
Hari demi hari terlewat sama
Semu juga gulana lelah yang terus melanda
Stop.. stop!
Teriak histeris untuk berhenti
Sesak dengan segala peraturan
Keluh kesah hanya jadi pilu
Jadi lucu kesalahan para penasehat waktu
Sang guru..
Julukan indah untuk tiap jasanya
Perjuangan yang tiada peluhnya
Tak perduli waktu habis untuk para penerus muda
Yang malas mengejar waktu masa muda
Hanya beribu kesah tanpa akhir
Masa itu, habis oleh kejanggalan hati
Masa indah yang tlah berlalu
Mengajarkan beribu arti
Akan jadi apa dan seperti apa?
Bukan masa itu penentunya..
Tapi, para penerus muda sendiri yang tau akhirnya
Masa itu..
Masa indah yang tak ingin ku akhiri
Di tengan penat lelahku
Masa itu..masih terasa indah dalam hati
Ajari aku beribu arti
Sekarang semua tlah berakhir dan
Menuntutku mencari jati diri lebih
Dari masa itu...


Menunggu arti cinta
Nurwahyuni

Terjal berbatu
Tiada berasa mengalirkan darah
Begitu deras di kakiku
Tiada ku berasa sakit
Tiada aku menjerit perih
Karena ini tak seberapa dengan
Jerih ku berupaya menanti cinta
Menahan rindu pada mu sang kekasih hati
Angin berhembus semilir
Di kedamaian malam
Semakin meninggi semakin hebat menghembus
Menggigil ku rasa dalam relung-relung
Sanubari yang kian menipis akan juangnya
Menanti beribu keindahan bersama sang kasih
Redup jiwa hampa rasa juga mati kalbu
Menahan rindu, yang tak kunjung bersua
Tiada kunjung bicara
Entah bagaimana kelanjutan  cinta yang kesekian kalinya
Ialah cinta yang banyak ajar tentang setia
Jauh di uji rasa jiwa
Untuk buktikan cinta sesungguhnya oleh Yang Kuasa
Hampa... hampa... hampaaaaaa....!!!!
Teriakan hati ,,
Tak kunjung juga kembali
Entah apa sebab gerangan pemilik hati
Sang kasih
Sekian lama tak jua kembali
Menunggu arti cinta
Bersama janji dan rindu
Menunggu sebuah cinta..
Dan itu Cintamu...       
                                                                           
01 Mei 2018

Biodata Penulis
G:\Shareit\Photo\IMG_20180308_192205.jpg
Namaku nurwahyuni, 09 november 2000 aku anak sulung dari dua bersaudara, aku baru saja menyelesaikan UN di masa SMA ku, tinggal nunggu pengumuman untuk kelulusan ku. Hobbi ku menulis dan membaca, mengikuti event lomba adalah satu kesempatan yang tak ingin aku lewatkan,. Selain menyalurkan hobbi ku, aku pun mendapat pengalaman tersendiri untuk hal itu dan ini terniali lebih manfaat untuk mengisi waktu. Bukan hanya sekedar hobbi tapi juga mimpi,. Mimpi menjadi sosok hebat yang memotivasi lewat setiap tulisanku untuk orang-orang sekitarku, aku tak pernah takut bermimpi. Karena meski aku tau akan jatuh di awang-awang tapi rencanaNya di balik setiap usaha ku tak pernah bisa di tebak di mana akan bermuara.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Andi Sofyan Nur;Penderitaan

Janji Karya : Andi Sofyan Nur Dua hari yang lalu Aku berjanji padamu Janji yang pastinya aku tepati Untuk bertemu Bersua Dan menggenggam telapak dingin tanganmu Kemarin Satu hari sebelum waktu pertemuan Kita berjumpa Bersalaman Dan Kau berpamitan padaku Sore hari tampak sangat memerah Menutupi wajah murungku Menutupi seluruh tubuhku Menghangatkan jasadku Walau sebenarnya masih terasa dingin Walau bukan penghangat bagiku Harapan itu tenggelam di ufuk barat Hari ini Aku berdiri Menunggu Dan Menanti di tempat yang telah kujanjikan Hanya menanti Semoga hatimu ingat janjiku dua hari yang lalu Janji yang tak bisa kutepati Semoga kebahagiaan selalu dijanjikan untukmu Dan selalu ditepati Kota Makassar, 23 Maret 2018 Menjauh Karya : Andi Sofyan Nur Aku bukan tak menyukai takdir Bukan juga ingin membencinya Hanya menginginkan sesuatu milikku kembali Hal yang pernah mengisi kehidupanku Dirimu yang kini jauh dariku Kemarin aku duduk dibelakangmu Te...

Puisi-Puisi Apri Kuncoro; Rintik Hujan

RINTIK HUJAN Apri Kuncoro Angin berhembus begitu kencang Seolah badai akan segera datang Menerpa segala apa yang ia terjang Mentari pun mulai tertutup awan mendung Menutup pancaran sinar mentari dari ibu pertiwi Burung-burung mulai berterbangan kesana kemari Mencari tempat untuk bernaung diri’ Katak-katak pun seolah iku bernyanyi Menyambut rintik hujan yang turun ke bumi ‘ Membasahi seluruh wilayah dan makhluk hidup dialam ini Rintik hujan yang selalu ku nanti Aku berharap engkau mampu hadir setiap hari Walau hadirmu hanya sedikit sekali Tapi aku tetap Mensyukuri Karena kau adalah Karunia Illahi Gombong,28 Maret 2018-03-28 RESAH DAN GELISAH Apri Kuncoro Rasa resah dan gelisah hati ini Tak pernah aku mengerti Kapan ia datang dan kapan ia pergi Semua seolah sulit aku pahami Karena resah dan gelisah adalah rasa yang penuh misteri Sebuah misteri yang terkadang sulit aku pungkiri\ Kedua rasa itu,tiba-tiba hadir tanpa ku sadari Pabila ku mengingatmu wahai kek...

Puisi-Puisi Ahmad Latiful Ansori;Kekuatan Cinta Gusdur

KEKUATAN CINTA GUSDUR Oleh : Ahmad Latiful Ansori Duhai Gusdur Aku tahu di balik candamu yang ceria Tersembunyi luka yang sangat dalam Luka yang tak akan pernah hilang saat seseorang berusaha menghunus mahkotamu Aku tahu Engkau tidak pernah mengharapkan mahkota itu Engkau hanya sedih saat kasihmu harus di balas dengan pedih Engkau memang tak punya musuh Tetapi serigala serigala itu telah haus kekuasaan Tak ada lagi yang bisa mereka cengkeram Selain merobek dan menyasap baju yang engkau kenakan Mereka memang biadab Membiarkanmu keluar tanpa sehelai sampur Duhai gusdur Mendengarkan kabar itu Bangsa ini tak pernah malu memilikimu Seraut wajahmu Melintas jelas bersama terpaan sang bayu Mengingatkan kami, bahwa kami masih rindu Masih menyisakan rindu oleh sosokmu Duhai guru Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi Engkau kembali pada yang maha mengasihi Kasihmu pada bangsa ini mampu membuat kami melihat dalam gelap Ragamu yang terpisah dari bangsa ini Ta...